Krisis Sosial Ekologis & Sains Dasar

Krisis Sosial Ekologis & Sains Dasar

Krisis Sosial Ekologis & Sains Dasar

Dari gambaran kesejarahan atas bagaimana secara fenomenologis kita memandang kehidupan sosial dan ekologis kita saat ini, kita dihadapkan pada dua sisi perspektif atas sains modern. Di satu sisi, kita merasakan adanya “kemajuan” dengan berbagai piranti rekayasa dan teknologi yang lahir dari implementasi sains modern tersebut. Namun di sisi lain, kita juga merasakan adanya berbagai proses “perusakan” atas sistem hidup ekosfera, baik secara makro maupun secara mikro dalam lanskap sosial ekologis kehidupan kita sehari-hari. Malangnya, proses pendidikan modern (baca: formal) saat ini bertitik berat pada perayaan atas “kemajuan” yang ada, namun lupa bahwa secara sistemik terjadi “perusakan” di sana-sini. Dua hal ini menimbulkan Krisis Sosial dan Ekologis dalam perspektif yang membenturkan apa yang secara collective intelligence berkembang dalam paradigma modernitas dan yang berkembang dalam paradigma tradisional-kultural nusantara.
Fundamen dari bangunan tata-pengetahuan atas dua domain collective intelligence ini memiliki corak dan perbedaan yang begitu kuat nan mendasar. Ini menuntut kita untuk melongok ke tata pendidikan sains dasar kita hari ini, dengan kenyataan bahwa pendidikan sains dasar yang dikenal saat ini sangat didominasi oleh fundamen-fundamen tradisi modernitas dan justru mengesampingkan (jika tidak memandang rendah) keluhuran yang mungkin tumbuh dan berkembang dalam tata sosial ekologis kehidupan asali masyarakat yang tinggal di kepulauan Indonesia ini.
Ini tentu tidak mudah! Karena perkembangan yang ada saat ini menunjukkan bahwa bahkan pendataan atas aspek-aspek kebijaksanaan yang terpancar melalui artifak kultural Indonesia sendiri masih sangat jauh dari lengkap. Proses pendataan sendiri jelas tidak cukup jika kita kontraskan dengan aspek perkembangan kehidupan modern yang ada. Penelitian ke arah sana dalam basis dan fundamen sains juga sangat miskin. Adalah langka menemukan hasil penelitian yang menggali kebijaksanaan tradisi (baca: meta-pengetahuan) nusantara dalam tradisi sains modern. Yang sering terjadi justru adalah upaya pencocok-cocokan meta-sains modern terhadap apa-apa yang menjadi elemen kehidupan tradisional Indonesia. Jika hal ini telah dilakukan, maka persilangan antara fundamen dari dua collective intelligence sebagaimana disebut di atas mungkin dapat diatasi, dan pendidikan dasar kita memiliki peluang untuk diperbaharui sehingga keterasingan sejarah kehidupan modernitas yang dominan saat ini dapat berpadu secara sinergi dengan peri-kehidupan dalam basis kehidupan di kepualuan Indonesia. Sebagai contoh, misalnya adalah keakraban antara sains modern kontemporer geometri fraktal dengan pola pemotifan batik tradisional Indonesia, atau konsepsi pemerintahan dan birokrasi di Indonesia yang secara tradisional justru memberi corak bagaimana konsepsi demokrasi diterapkan di beberapa kerajaan yang ada di persada nusantara secara organis.
Pendidikan sains dasar yang terbaharui sehingga memiliki sinergisasi yang aktif antara kebijaksanaan yang terkandung dalam perikehidupan modernitas dan perikehidupan tradisional Indonesia merupakan sebuah solusi jangka panjang dalam rangka Krisis Sosial Ekologis yang dialami oleh generasi sekarang dan generasi mendatang. Karena kita jelas memerlukan kebijaksanaan yang terkandung di dalam realm modernitas namun perlu memikirkan pola kebijakan publik yang tidak menjadi beban perusakan atas kehidupan sosial di dalam ekosfera kita. Hal ini merupakan kajian dan menjadi pertanyaan sekaligus tantangan mendasar yang sangat penting dalam rangka penyusunan wawasan tentang bagaimana pendidikan sebagai unit transmisi budaya diterapkan secara implementatif.
Karya Yang Disebut
[1] Gleick, J. (1987). Chaos: Making a New Science. Viking.
[2] Barnsley, M. (1988). Fractals Everywhere. Academic Press.
[3] Miller, J. H. & Page, S. E. (2007). Complex Adaptive Systems: An Introduction to Computational Models of Social Life. Princeton UP.
[4] interpretasi meluas dan menarik atas Teorema Ketaklengkapan Godel ditunjukkan di Hofstadter, D. (1979). Gödel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid. Basic Books.
[5] Rees, M. J. (2007). “Cosmology and the Multiverse”. dalam Carr, B. (eds.). Universe or Multiverse?. Cambridge UP. pp.57-76.
[6] Dahlan, R. & Situngkir, H. (2009). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia.
[7] Mulder, N. (1998). Mysticism in Java: Ideology in Indonesia. Pepin Press.
[8] Vergouwen, J. C. (1964). The Social Organization and Customary Law of the Toba-Batak of Northern Sumatera. The Hague.
[9] Dawson, B. & Gillow, J. (1994). Traditional Architecture in Indonesia. Thames & Hudson.
[10] Endang, T. (2006). Struggling for the Umma: Changing Leadership Roles of Kiai. ANU E Press.
[11] Foucault, M. (1969). The Archeology of Knowledge. Terj. Inggris oleh A. M. Sheridan Smith. Routledge.
[12] Sebuah publikasi populer terkait ini oleh Huntington, S. P. (1996). The Clash of Civilizations: Remaking of World Order. Simon & Schuster.
[13] Durant, W. (1935). The Story of Civilization Vol. 1-11. Simon and Schuster.
[14] Brotton, J. (2006). The Renaissance: A Very Short Introduction. Oxford UP.
[15] Farr, J. R. (2003). “Industrial Revolution in Europe: 1750-1914”. World Eras 09, Thomson-Gale.
[16] Gordon, A. (2003). A Modern History of Japan: From Tokugawa Times to the Present. Oxford UP.

Sumber : https://fascinasiansblog.com/