Krisis Sosial Ekologis

Table of Contents

Krisis Sosial Ekologis

Krisis Sosial Ekologis

Ada hantu yang berkeliaran di ranah sains modern – hantu ketakpastian, ketaklengkapan, dan non-universalisme teoretis. Semua pendekatan saintifik terkontemporer seolah telah lama bahu-membahu untuk mengusir hantu ini: teori chaos [1] dan fraktal [2], kompleksitas sistem [3], teorema ketaklengkapan Godel [4], interpretasi dan konsepsi atas perubahan iklim dalam studi ekologi, hingga konsep kosmologi multiverse (sebagai antidot dari universe) [5].
Lantas apa yang terjadi jika konsepsi yang semestinya menjadi pengusir hantu itu telah banyak digunakan dalam bentuk lain di kepulauan Indonesia? Tanpa elemen-elemen dasar geometri, Batik Jawa mengakuisisi konsep fraktal [6]. Tanpa mengenali silogisme dan paradoks, etika orang-orang pribumi telah akrab dengan konsepsi “tepa selira” [7], tak ragu untuk memberi proposisi didaktik di tengah oposisi biner. Tanpa studi atas bentuk muka bumi yang komprehensif dalam perspektif konvensional, rumah tradisional Sunda di pemukiman Kampung Naga diperkirakan tak akan rubuh meski dengan goncangan gempa bumi 10 SR. Tanpa konsepsi atas “kerangka acuan tetap”, kosmologi multiversal orang-orang Tapanuli tentang buana atas, tengah, dan bawah (banua ginjang, banua tonga, banua toru) [8] menjadi konsepsi yang tercermin dari arsitektur tradisionalnya [9].

Benturan Fundamen Konsepsi
Berbeda dengan ilmu pengetahuan modern yang tegak berdiri dengan mitologi positivisme sains, pengetahuan turun-temurun itu ditopang berbagai mitologi dan konsepsi tentang alam semesta dalam sistem religi tradisional. Berbeda dengan ilmu pengetahuan modern yang disangga oleh “formalitas” sistem pendidikan instruksional melalui kurikulum modern dalam kerangka kehidupan akademik, pengetahuan turun-temurun itu hidup dalam “informalitas” scholae in loco materna, hubungan familial intra- dan inter-keluarga, suku, atau secara spesifik di Jawa di antara kelompok-kelompok bandongan dan sorogan terkait tirakat untuk pengetahuan tertentu [10].
Perbedaan karakteristik antara diskursus keilmuan ini menjadi semacam elemen epistemologis yang sangat membedakan [11] dan akhirnya menggoda kebanyakan filsuf dan ilmuwan sosial yang sering membenturkan antara yang “barat” dan yang “timur” [12]. Jalur historis telah menunjukkan bahwa kehidupan modern kita hari ini kita alami dengan dominasi konsepsi modernitas yang nota bene yang sering dikaitkan dengan peri-kehidupan barat. Demikian pula dengan pendidikan sains (dasar), yang secara garis besar, pada dasarnya adalah upaya playback sejarah sains modern untuk menjadi fundamen bagi pengembangan sains (dan teknologi) lebih lanjut.

Sumber : https://usgsprojects.org/